Cinta Botak Selalu

Cinta Botak Selalu

CINTA BOTAK SELALU 
Oleh Puji Purwanti

Hariku serasa tak bertuan lagi, sudah jarang berdaulat diantara cakrawala. Aku sudah enggan tuk menyanding pelangi kembali. Bukan karena sakit hati yang masih bersemayam di sini, bukan juga aku takut terbentur oleh dunia asmara lagi. Ini hanya soal egoku yang pasrah pada keadaan, yakin sepenuhnya bahwa jalanku sudah diatur oleh Sang Khalik. 

Acuhkan saja curahan hatiku, itu hanya sedikit luapan dari wanita single sepertiku. Kupikir aku tak terlalu tua, belum pantas juga dipanggil perawan tua. Usiaku baru 27 tahun, wajahku juga tak terlalu tua. Tapi teman-teman dan keluargaku selalu mempermasalahkan kejombloanku di usia 27 ini. 

“Gi,” panggil Heru, sahabatku. 

“Hmm,” gumamku menjawab panggilan dari sahabatku. 

“Gi, noleh kek!” seru Heru lagi. Gi, ya, itu namaku, Giana, lengkapnya Giana Helniar. Orang-orang memanggilku Gian. Sekarang ini aku sedang bersama dengan 2 sahabatku, Heru dan Dini. Mereka adalah pasutri, dan aku adalah tuan putri jomblowati . Heru dan Dini sudah menikah sejak 3 tahun yang lalu. Mereka sudah dikaruniai putri cantik bernama Tea yang kini berada di pangkuanku. Nasib jomblowati memang begini, aku harus rela jadi pengasuh putri mereka. Padahal sebenarnya mereka adalah bawahanku dalam bisnis. Mereka adalah sahabat sekaligus orang kepercayaanku untuk mengelola restaurant cabangku di daerah Sumatera. 

“Gi, loe beneran nggak pengin nikah sekarang? Udahlah, mending loe sama temen gue, dia pengusaha property, loh,” kata Heru. Sementara aku masih sibuk menoel-noel pipinya Tea yang masih di pangkuanku. 

“Alah, jodoh mah sudah ada yang ngatur, gue sih santai, bodoamat sama cibiran keluarga gue,” balasku. 

Dulu, aku pernah dijodohkan dengan seorang CEO oleh keluargaku. Oh jelas sekali aku tolak, mau dia CEO, Tuan Raja, atau Mang Damang, pokoknya aku nggak mau! Aku hanya takut kalau nantinya aku tak bisa nyaman dengan suami yang dicarikan orangtuaku. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan pria-pria yang dipilihkan oleh ayahku. Ayahku seorang TNI, sedangkan ibuku adalah pengusaha kecil di bidang fashion. Aku masih tinggal dengan ayah, ibu, dan adik perempuanku yang masih kuliah di fakultas kedokteran . 

“Hufthh, bosen gue. Masa tiap kali ketemu ngomongin jodoh mulu. Mending loe ngomongin lowongan kerja. Gue pengin jadi Public Relation,” tuturku. 

“Aela, mblo. Duwit loe kan udah mumbruk begitu, masih aja nyari duwit lagi,” protes Dini. 

“Bosen di rumah terus,” jawabku simple. Ya begitulah 2 sobatku ini, jauh-jauh dari Medan ke Jakarta cuman ngomongin soal jodoh. Ngomongin soal aku yang ngebet pengin jadi seorang Public Relation, aku jadi ingat temannya Heru yang baru saja ia bicarakan, seorang CEO?

 “Her, tadi loe ngomongin soal temen CEO loe, mmmm, kenalin, dong, hehehe,” jangan salah sangka dulu, pemirsa, aku hanya mencari pintu untuk mencapai mimpiku. Sejak SMA dulu, aku memang sudah dikenal teman-teman sebagai playgirl kelas teri, wkwkwk. 

“Jangan bilang kalau kamu cuman mau jadi PR di perusahaannya temen gue, ngaku!” hardik Heru.

“Tahu aja, loe. Siapa namanya?” tanyaku penasaran. 

“Reza,” tebak Dini. Seketika itu aku langsung menoleh pada Dini. Reza? Reza mantanku waktu SMA? Aku tampar pipiku, mana mungkin, dunia ini luas kalik. By the way, Reza bukan salah satu dari mantan-mantanku, tapi mantan pertama dan terakhirku. Pasti kalian kaget dan jungkir balik detik ini juga, kan? Jangan, ya, itu terlalu lebay dan ekstrim. Seorang Gian jajaran buaya udang waktu SMA cuman pacaran sekali? Tapi itu memang faktanya. Jujur saja aku masih sangat mengharapkan Reza, tapi aku rasa itu sudah mustahil. Mungkin saja sekarang ia sudah menikah, atau bahkan mungkin dia sudah punya anak, huaa. 

Keesokan harinya aku benar-benar pergi ke kantor temanya Heru, tentunya ditemani Heru. Karena aku memang mau melamar sebagai PR di perusahaan, tentu saja penampilanku juga harus rapi. Tampangku memang tak terlalu buruk, meski itu pikirku sendiri, wkwkwk. Pilihanku pagi ini adalah celana bahan abu-abu dengan blazer coklat, aku memadukan busanaku dengan jilbab satin warna abu-abu, dan sepatu boots coklat dengan hak 7 cm.  

Aku dan Heru menghampiri wanita yang usianya kisaran 35 tahunan yang duduk di bangku receptionis. “Permisi, kami ingin menemui Pak Reza,” izin Heru. Receptionis di depanku ini sempat memicingkan mata melihat penampilanku. Memangnya apa yang salah dengan penampilanku? Ya memang dandananku tak begitu glamour seperti pegawai-pegawai di kantor ini. Seingatku, tadi aku hanya memakai babycream dengan sedikit blush on dan baby lips. 
Kemudian tanpa mengucap sepatah kata pun receptionis itu menelpon seseorang, “Maaf, pak, ada yang ingin menemui bapak,” lapor receptionis itu. 

“Siapa?” Tanya seseorang yang ditelfon itu.

 “Maaf, dengan bapak siapa, ya?” Tanya receptionis itu pada kami. 

“Heru Atmaja,” jawab Heru. 

“Pak Heru, pak,” kata receptionis itu pada seseorang yang ku tebak adalah si Pak Reza itu. 

“Silahkan langsung ke ruangannya Pak Reza di lantai 3,” kata receptionis.

Aku dan Heru segera masuk lift menuju ke lantai 3 untuk menemui CEO Perusahaan Properti ini. Jujur saja aku tak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Aku sendiri juga tak tahu apa yang menyebabkan aku gugup. Aku merasa ada sesuatu yang akan terulang kembali. Semoga saja ini bukan firasat buruk tentang diriku. 

“Tok tok tok,” ketuk Heru pada pintu ruangan CEO. 

“Masuk,” jawab seorang pria di dalam sana. Suara itu seakan sudah taka sing lagi bagiku, seperti sesuatu yang ku tunggu-tunggu selama ini. Tapi siapa ? 

Aku dan Heru melangkah memasuki ruangan CEO yang justru terlihat seperti sebuah ruang keluarga, sangat nyaman. Aku dan Heru duduk di sofa panjang berwarna abu-abu. Ruangan ini ber-AC, tapi sedari tadi aku terus saja berkeringat. Aku benar-benar tak paham apa yang baru saja menimpaku. 
Di seberangku dan Heru kudapati seorang pria yang masih berbalik badan, ia hanya memakai kemeja merah dengan jaz hitam yang ditanggalkan di kursinya. Rambutnya hitam pekat bergaya cepak ala tentara. Apa sebenarnya ia seorang tentara? Tapi mana mungkin? Di Indonesia, tentara tidak diizinkan berkecimpung dalam bisnis dan politik, bukan? 

Ku dengar suara pantofel pria menapaki lantai, berjalan ke arahku dan Heru, aku hanya bisa melihat sepatu hitam seorang pria karena memang seakarang ini aku tengah menunduk. 

“Oh, loe, Her. Tumben nggak langsung masuk, biasanya juga kayak jelangkung,” sapa pria yang menjabat CEO itu. 

“Gue ke sini mau bantu loe, gue bawa calon PR buat loe, dia sobat gue,” kata Heru to the point. Aku yang baru saja dibahas terpaksa harus mengangkat kepala dan menatap pria di depanku. Dia menodongkan tangan kanannya padaku. Aku malah jadi semakin gugup. Yang benar saja, selama ini aku tak pernah menjabat tangan pria kecuali keluargaku. Tapi untuk menghormati harga dirinya, akhirnya aku menerima uluran tangannya. Tak lupa aku menampilkan senyum sok manisku, hehehe. 
“Reza,” katanya memperkenalkan diri. Aku dan CEO bernama Reza ini masih berjabat tangan, coy, catat! Ku pandangi wajahnya. Kulitnya pas, tak begitu putih tak juga begitu coklat, sebut saja sawo matang. Aku seperti merasakan sesuatu yang pergi dariku telah kembali. Tepat sekali, dia persis seperti mantanku. Tapi aku harus tetap memendam asumsiku ini, bisa saja aku keliru. 

“Gian,” balasku berkenalan sembari melepaskan jabat tangan kami. 

“Drrt, drrtt,” ponsel Heru bergetar. Apa ini pertanda buruk? Begitu Heru membuka ponselnya, ia spontan berdiri. 

“Sorry, gue harus pergi, gue lupa beliin pembalut buat Dini,” pamit Heru dan langsung nyelonong pergi meninggalkanku dengan si CEO yang ku rasa duplikatnya mantanku. Ouwhh, sungguh mantan terindah sampai-sampai aku masih lajang karena taka ada yang sanggup mengisi kekosongan hatiku selain dia. 

Sebuah lambaian telapak tangan tepat di wajahku membuyarkan lamunanku tentang mas mantan. “Jadi, bisakah anda bekerja mulai detik ini?” Tanya si bos baru. Benar-benar jauh dari kata manis, hufthh. Apakah dia si bos pelit? Haruskah aku jujur saja kalau aku sedang butuh minum? 

“Mmm tentu,” jawabku sedikit gugup. 

“Sepertinya kau sedang gugup,” tebaknya mengintimidasiku. 

 Pak Reza melirik arlogi silver yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Kanan? Aku serius, ia benar-benar seperti tentara. “Mau makan siang bersama?” Tawar Pak Reza. Aku yang masih saja merasa gugup, jantungku jedag jedug sejak awal hanya memilih mengangguk sebagai jawaban iya. 
Aku mengekor di belakang Pak Bos menuju ke parkiran. Semua karyawan kantor melihatku seakan ingin mengulitiku hidup-hidup. Ada juga yang berbisik-bisik sambil melirikku dan Pak Reza. 
Aku bernafas lega ketika sampai di depan lamborgini hitam. Apa tak ada kantin di dekat kantor ini sampai harus naik mobil? “Bisa buka pintunya sendiri, kan?” tanyanya seperti sedang meremehkanku. Memangnya aku buta atau norak, ya? Ohh aku tahu, pasti ia mengira aku seperti wanita-wanita alay lainnya yang selalu mendambakan seperti seorang putri sampai-sampai harus dipersilahkan dan dibopong untuk menaiki kudanya. 

Aku membuka pintu lamborgini hitam di depanku dengan sedikit kasar. Belum genap bekerja sehari saja sudah bĂȘte, “Menyebalkan,” celetukku pelan. Begitu aku dan si bos sudah sama-sama berada di dalam mobil, aku menyibukkan diri dengan memasang safebelt untuk menghindari kontak dengannya. 

“Bisakah kau ulangi satu kata yang baru saja kau ucapkan?” tanyanya menelisik mataku. Apa maksudnya? Aku malah jadi semakin bingung. Ku rasa aku bisa depresi jika terus berdekatan dengannya. 

“Ha? Maksudnya?” tanyaku melongo khas orang bego. 

“Seharusnya pegawai tak mengumpat pada bosnya.”

“Emm maaf,” jawabku pelan. 

Setelah ocehan recehnya itu, ia segera melesakkan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan membuatku  hampir jantungan. Apa selain mirip dengan seorang tentara, mirip mantanku, apa dia juga seorang pembalap? 10 menit kemudian, ia meminggirkan mobilnya di depan warung makan di pinggir jalan. Ada spanduk besar bertuliskan ‘SATE KAMBING BU KINARSIH’ yang sekaligus menjadi penutup warung itu. Sebenarnya warung ini adalah langgananku.

“Lho kamu, nduk,” sapa Bu Sih, pemilik warung. Saking seringnya makan di sini sampai-sampai kami sudah seperti keluarga. Aku mulai menjadi langganan warung sate ini sejak duduk di bangku SMA dulu. “Sering makan di sini?” Tanya Pak Reza. 

“Iya,” jawabku seadanya. 

Aku berjalan mendahului Pak Reza dan duduk di lesehan. Pak Reza yang mengikutiku di belakangku jelas melihatku sedikit aneh. Begitu pesanan kami datang, Pak Reza tak langsung menikmati hidangan di depannya. 

“Ehggmm,” ia berdehem. 

“Kamu mengingatkan saya tentang seseorang yang saya tunggu hingga detik ini,” Pak Reza tak langsung melanjutkan kalimatnya. Ia menenggak es jeruk yang ada di depannya tanpa sedotan dan tanpa diaduk terlebih dahulu. “Dia yang pertama kali menjadi pacar dan mantan pertama saya, dia bahkan memutuskan saya saat kami baru saja berpacaran satu hari.”

“Apa bapak sedang bercerita kisah SMA?” tanyaku cepat, “Apa bapak akan mengikatnya kembali kalau seandainya bapak bertemu dengannya lagi?” 

“Tentu, tapi saya tidak yakin kalau wanita 27 tahun sepertinya masih sendiri.”

Aku jadi yakin kalau pria yang tengah bersamaku ini adalah orang yang selama ini ku cari, aku nanti hingga jadi jomblo akut. Rasanya aku seperti keruntuhan rembulan di siang bolong. Tak mau menyia-nyiakan waktu, aku mengambil kalung dengan gantungan kepala tentara yang botak dengan topi doreng dari dalam tas selempangku, aku sodorkan tepat di depan wajahnya. Kalung itu ia berikan saat kelulusan SMP dulu. Dengan gemas aku jitak kepala si bos, “Sialan! Gara-gara nungguin kepastian dari loe, sampai detik ini gue masih jomblo.” 

“Aduh,” celetuknya karena merasakan jitakan cinta dari jemari lentikku. 

“Kamu belum berubah juga, ya. Masih lancang sama orang. Nggak sopan sama bos,” ejeknya. 

Aku jadi flashback 11 tahun yang lalu. Saat itu aku dan Reza masih remaja. Kami jadi saling kenal karena jadi teman satu kelas saat kelas 9. Saat itu ia jadi ketua kelas, sedangkan aku jadi sekertaris. Tapi Reza nembak aku saat aku kelas 10, tentu saja aku terima. Tapi genap sehari kita pacaran, aku memutuskannya. Alasannya konyol, hanya karena aku yang gengsi pacaran dengan cowok gendut. Ya, dia memang agak gendut dulunya. Bodohnya lagi saat kelas 11, aku mengajak Reza balikan. Jawabannya jelas ditolak. Yaaa meskipun dia tak mengungkapkan secara langsung menolakku. Aku masih ingat dengan jelas, saat itu Reza hanya bilang, “Tunggu aku sampai Idul Adha.” Aku mana mau menunggunya, memangnya dia santri yang harus menunggu selesai Ramadhan untuk balikan?

“Jadi, kamu mau balikan sama aku? Tapi aku maunya langsung nikah,” ungkapku terburu-terburu. 

“Dari dulu kamunya mulu yang nafsu,” celetuknya yang lalu ku balas dengan menjitak kepala botaknya lagi. 

“Mulutmu pengin dicabein?” cibirku garang meliriknya, “Eh, tapi aku penginnya nikah sama pak tentara,” rengekku. “Sekarang kamu juga udah guanteng, tinggi dan berotot,” lanjutku tanpa malu.

“Botakmu ini sudah mirip tentara, kog,” sanggahnya dengan sok imut. 

“Buk Sihhh, aaaaa akhirnya aku mau kawin,” teriakku seperti orang gila. Aku benar-benar sudah melupakan sisi anggunku. Dan yang lebih aku lupakan adalah aku berteriak dengan mulut penuh sate. Tentu saja makanan yang memenuhi mulutku kini sudah tercecer di kemejanya Reza. 

1 Komentar untuk "Cinta Botak Selalu"

  1. numpang share ya min ^^
    bosan tidak tahu harus mengerjakan apa ^^
    daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
    F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
    ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel